catatan sunyi dalam buku harian _
aku dan sesuatu
Sabtu, 17 Maret 2012
Wiridan/Dzikir
Berbagai situs di internet menampilkan kulasan menarik tatacara membaca wiridan sesudah sholat yang benar.
Astaghfirullohhal adziim li wli walidayya wali ashabil khuzuz ala wal jamiil mu’minin wal mu’minati wal muslimati al akhya’i minhum wal amwaat
Artinya: Aku mohon ampun Ya Alloh dzat yang Maha Agung, dan juga ampuni kedua orangtuaku dan orang-orang yang mempunyai kewajiban pada aku dan semua mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat yang hidup maupun yang sudah meninggal.
Laa ilaaha illalloh wahdahu laasyarikalah lahulmulku walahulhamdu yuhyii wayumiitu wahuwa alla kulli syaiin qodiir
Artinya: Tidak ada tuhan selain Alloh, dzat yang Maha Esa, tidak ada sekutu untukNya, dzat yan mempunyai kerajaan dan semua pujian. Dzat yang menghidupkan dan mematikan dan juga berkuasa atas segala sesuatu.
Allohhumma antasalam, waminkassalam, wa ilaika ya’uudusalam, fahayinaa Robbana bissalam, wa adkhilnal jannata darossalam, tabarokta robbana wata a’laita yaa dzaljalali wal ikraam
Artinya: Ya Alloh dzat yang mempunyai keselamatan, keselamatan adalah dari Engkau dan keselamatan berpulang kepadaMu, dalam kehidupannku berilah keselamatan, masukkan aku ke dalam sorga darossalam, Ya Alloh, Engkau yang maha luhur dan Maha Agung, dzat yang Maha Luhur dan dzat Maha mulia.
Setelah membaca doa wiridan diatas, setidaknya anda bisa meneruskan untuk membaca surah Al Fatihah. Tidak lupa juga untuk membaca ayat kursi. Berikut bacaan ayat kursi selengkapnya.
Allohu laa iaaha illaa huwalkhoyyul qoyuum laa ta’ khudzuhuu sinatuw walaa naum lahu maa fiissamaawaati wa maa fil ardhi, mandzazladzii yasyfa’u walaa yukhithuuna bisyai’in min ‘ikmihi illa bi maasyaa’i wasi’a kursiyyuhussamaawati wal ardho waa ya’uduhuu khiffzuhuma wahuwal a’liyul a’zhiim
Setelah membaca bacaan ayat kursi, bacalah lafadz berikut
Syahidadallohu annahu la illa ha ila huwa walmalaikatu wa ulu ilmi qoiman bil qisthi la ilaa ha illa huwal aziizul hakiim
Nah, semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk anda semua. Jika anda ingin menmbahkan bacaan wiridan lainnya, selahkan sesuai dengan keinginan anda. Selalu optimis Allah selalu bersama kita orang-orang muslim.
inilah wiridan yang saya dapatkan artikelnya dari Blogiztic ;
http://www.blogiztic.net/edukasi/agama/doa/tata-cara-wiridan-doa-setelah-shalat.html Semoga Bermanfaat
hukum Anal Seks/Sodomi
Soal: Apa hukum mendatangi istri di duburnya (belakang) atau mendatanginya dalam keadaan haidh atau nifas?
Jawab: Tidak
boleh menggauli istri di duburnya atau dalam keadaan haidh dan nifas.
Bahkan yang demikian itu termasuk dari dosa-dosa besar berdasarkan
firman Allah Ta’ala (artinya):
وَيَسْأَلُونَكَ
عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُواْ النِّسَاء فِي الْمَحِيضِ
وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىَ يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ
فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللّهُ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ
التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ نِسَآؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ
فَأْتُواْ حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُواْ لأَنفُسِكُمْ
وَاتَّقُواْ اللّهَ وَاعْلَمُواْ أَنَّكُم مُّلاَقُوهُ وَبَشِّرِ
الْمُؤْمِنِينَ
“Mereka
bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah “Haidh itu adalah kotoran.”
Maka jauhilah diri kalian dari wanita ketika haidh. Dan janganlah kalian
mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka sudah suci, maka
datangilah mereka di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu.
Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai
orang-orang yang mensucikan diri. Isteri-isteri kalian adalah (seperti)
ladang (tempat bercocok tanam) bagi kalian. Maka datangilah ladang
kalian bagaimanasaja kalian kehendaki.” (Al Baqarah 222-223)
Allah Subhanahu wa
Ta’ala menjelaskan pada ayat ini wajibnya menjauhkan diri dari wanita
ketika dalam keadaan haidh dan melarang untuk mendekati mereka sampai
mereka dalam keadaan suci. Yang demikian itu menunjukkan atas
pengharaman untuk menggauli mereka ketika dalam keadaan haidh dan
seperti itu juga nifas. Dan jika mereka sudah bersuci dengan cara mandi,
boleh bagi suami untuk mendatanginya di tempat yang diperintahkan
Allah, yaitu mendatanginya dari arah depan (qubul), tempat “bercocok
tanam”
Adapun dubur,
adalah tempat kotoran dan bukan tempat bercocok tanam. Maka tidak boleh
menggauli isteri di duburnya bahkan yang demikian itu termasuk salah
satu dosa-dosa besar dan merupakan maksiat yang maklum dari syari’at
yang suci ini. Abu Daud dan An Nasa’i telah meriwayatkan dari Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda (artinya):
مَلْعُونٌ مَنْ أَتَى امْرَأَتَهُ فِى دُبُرِهَا
“Terlaknatlah siapa saja yang mendatangi perempuan di duburnya”
At Tirmidzy dan An
Nasa’i meriyawatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dari Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya),
لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى رَجُلٍ أَتَى رَجُلاً أَوِ امْرَأَةً فِى الدُّبُرِ
“Allah tidak akan melihat kepada seseorang yang mendatangi laki-laki atau perempuan di duburnya.” Sanad hadits ini shohih.
Mendatangi isteri
di duburnya adalah bentuk liwath (sodomi) yang diharamkan kepada
laki-laki dan perempuan semuanya. Berdasarkan firman Allah Ta’ala
tentang kaumnya Nabi Luth ‘alaihi assalam (artinya):
وَلُوطاً إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِّنَ الْعَالَمِينَ
“Dan (ingatlah)
ketika Luth berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya kamu benar-benar
mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh
seorangpun dari umat-umat sebelum kamu” (Al Ankabut 28)
Begitu juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (artinya):
“Allah melaknat
siapa yang berbuat dengan perbuatannya kaum Luth”. Beliau katakan tiga
kali. (Diriwayatkan Al Imam Ahmad dengan sanad shohih).
Maka wajib bagi
setiap muslim untuk berhati-hati darinya dan menjauhkan diri dari setiap
yang diharamkan oleh Allah Ta’ala. Bagi setiap suami hendaklah menjauhi
kemungkaran ini. Bagi setiap isteri untuk menjauhkan dari dari yang
demikian
dan tidak memberi kesempatan kepada suami untuk melakukan kemungkaran
yang besar ini, yaitu menggaulinya dalam keadaan haidh atau nifas atau
di dubur.
Kita
memohon kepada Allah berupa keselamatan bagi kaum muslimin dari setiap
apa yang menyelesihi syari’atNya yang suci. Sesungguhnya Dia
sebaik-baiknya tempat meminta.
(Yang Mulia Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah)
Sumber: Lin Nisa’ faqoth (276-278)
Alih Bahasa: Ayub Abu Ayub
Dari Tulisan KANG BRAM
SUMBER : http://darussalaf.org
Sholat Dhuha
1- Dengan shalat dhuha, Allah akan menghapus dosa-dosa. Di riwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah bersabda, "Barangsiapa menjaga dua raka'at shalat dhuha maka dosa-dosanya akan di ampuni walaupun sebanyak buih di laut."
Di riwayatkan oleh Abu Ya'la bahwa Nabi SAW bersabda, barangsiapa ketika matahari menyambutnya, ia wudhu' dan menyempurnakan wudhu'nya lalu ia berdiri untuk melaksanakan shalat dua raka'at maka akan di ampuni dosa-dosanya sebagaimana ketika dia di lahirkan oleh ibunya."
2- Orang yang melakukan shalat dhuha adalah termasuk golongan orang-orang yang bertaubat, sebagaimana yang di riwayatkan oleh Ath Thabrani dari Abu Hurairah RA, ia berkata, Rasulullah bersabda, "Tidaklah seseorang melakukan shalat dhuha kecuali seorang yang bertaubat." Dalam riwayat lain di sebutkan, "Shalat dhuha adalah shalatnya orang-orang yang bertaubat. " Di riwayatkan oleh Al Hakim dengan syarat Muslim.
3- Orang yang melakukan shalat dhuha akan mendapatkan pahalanya umrah. Di riwayatkan oleh Abu Daud dari Abu Umamah RA, bahwa Rasulullah bersabda, "Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan suci untuk melaksanakan shalat wajib maka pahalanya adalah seperti pahala haji, dan barangsiapa yang melakukan shalat dhuha maka pahalanya adalah seperti pahala umrah dan malaksanakan shalat setelah shalat tanpa ada kesia-siaan antara keduanya maka ia akan mendapat tempat yang tinggi.
4- Orang yang melakukan shalat dhuha maka ia termasuk dalam golongan orang-orang yang ahli ibadah. Di riwayatkan oleh Ath Thabrani dari Abu Darda', ia berkata: Bahwa Nabi SAW bersabda: Barangsiapa yang melaksanakan shalat dhuha dua raka'at maka ia tidak termasuk golongan orang-orang yang lalai, barangsiapa yang melaksanakannya empat raka'at maka ia akan tercatat sebagai orang yang ahli ibadah, barangsiapa yang melaksanakannya enam raka'at maka akan di cukupkan baginya hari itu, dan barangsiapa yang melaksanakannya dua belas raka'at maka Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga, tidak ada siang dan malam kecuali Allah memiliki pemberian yang lebih baik yang Allah berikan kepadanya kecuali Allah memberi ilham kepada hamba-Nya untuk berdzikir kepada-Nya."
5- Orang yang melakukan shalat dhuha maka ia akan masuk surga melalui pintu dhuha. Di riwayatkan oleh Ath Thabrani , bahwa Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya di dalam surga terdapat pintu yang bernama pintu dhuha, jika tiba hari kiamat maka berserulah seorang penyeru, "Manakah mereka yang terus menerus melakukan shalat dhuha? Inilah pintu kalian maka masukilah surga dengan rahmat Allah Ta'ala."
6- Orang yang melakukan shalat dhuha maka Allah akan mencukupi kebutuhannya pada hari itu dan ia termasuk salah seorang yang mendapatkan jaminan Allah. Di riwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Abu Darda' dan Abu Dzarr RA bahwa Rasulullah SAW bersabda dari Allah bahwa Allah berfirman, "Wahai anak Adam shalatlah untukku empat raka'at pada permulaan siang maka Aku akan mencukupi pada penghabisannya."
7- Orang yang melakukan shalat dhuha maka dengan shalatnya itu berarti ia telah menyempurnakan shadaqah terhadap semua anggota tubuhnya, karena jika seorang hamba berada pada pagi hari maka di haruskan baginya bershadaqah untuk semua anggota tubuhnya, dan bahwa sesungguhnya shalat dhuha dapat menyempurnakan seluruhnya.
Di riwayatkan oleh Muslim dari Abuu Dzarr RA,
bahwa Nabi SAW bersabda: "Setiap persendian anggota tubuh di antara
kalian harus di shadaqahi, dan setiap tasbih adalah shadaqah, setiap
takhmid adalah shadaqah, setiap tahlil adalah shadaqah, setiap takbir
adalah shadaqah, mengajak pada kebaikan adalah shadaqah, mencegah
kemungkaran adalah shadaqah dan yang akan membagikan seluruh shadaqah
itu adalah shalat dhuhanya yang dua raka'at."
Di riwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa Nabi SAW bersabda, "Dalam diri manusia terdapat tiga ratus enam puluh sendi dan baginya hendaknya bershhadaqah kepada setiap sendinya dengan satu shadaqah." Para sahabat bertanya, "Siapa yang sanggup melakukan hal itu wahai Rasulullah?" beliau bersabda, "Duduk di dalam masjid maka akan menutupinya dan sesuatu yang engkau jauhkan dari jalanan dan jika kalian tak sanggup maka shalat dhuha akan mencukupi itu semua darimu."
Shalat dhuha yang paling sedikit adalah dua raka'at hingga delapan raka'at.
Semoga artikel manfaat sholat Dhuha yang saya dapatkan dari blog Islami ini , bermanfaat untuk kita semua umat muslim , amin ....
Langganan:
Postingan (Atom)

